tentang ; Menghayati The Doors*

Menghayati The Doors  oleh  Hyde Asmarasastra

kesempatan pertama setelah kesempitan bertanya apakah mampu kita bertahan dari godaan ingin berkenalan. sebab tanda-tanda bahaya dari kedipan mata adalah maut siap mencabut usia. terlebih dahulu membuat pingsan tak sempat berpikir ingin memiliki kesempatan lain ciuman lain berkedip pada kebahagiaan lain. kita terlanjur menjadi aneh sebentar sanggup sendirian sebentar saling menginginkan. tingkat keanehan yang sampai pada tak bisa mengingat nama.

hari-hari cerah penuh dengan rasa sakit. kegilaan pada pertemuan yang dilampirkan hujan-hujan lembut. waktu seakan ragu-ragu antara berlari lalu kembali. tetapi jalan-jalan adalah bidang yang tidak pernah mati. selalu membebaskan kita dari alasan mengapa lebih suka menangis daripada berbaris. menunggu kapal kristal berisi seribu puisi berikut getaran hati. satu juta cara menyelamatkan diri dari para pembunuh di jalan. pembunuh yang terbangun sebelum fajar. mengambil wajah dari galeri kuno sebelum menyusuri lorong. pembunuh dengan otak berisi katak yang tak pernah liburan panjang. anak-anaknya bermain seperti keanehan baru yang diciptakan.

sekarang tiba mengucapkan selamat tinggal. kita kehilangan keanehan tua yang baik. wajah bulan menjadi botol whiski. di lenganmu kutemukan pulau dengan rantai terbuat dari ilusi. mataku membaca, “aku mencintaimu dengan cara paling baik lebih baik daripada yang lain”. sekarang kita hanya bisa kalah waktu yang ragu-ragu berkubang dalam lumpur. cinta menjadi pembakaran jenazah bagi keanehan yang sebentar lagi meluncur. memanjat bulan melalui air pasang mencapai tangan yang kerap menahan memberi panduan.

janganlah pucat sumpah adalah kepasrahan yang sekarat. mereka menunggu membawa keanehan ke taman terputus. kau tahu bagaimana pucat hanya kenakalan kecil yang datang sebelum kematian. pada jam yang aneh tanpa pemberitahuan atau direncanakan sama-sama menakutkan. jadilah tamu yang ramah malaikat mungkin memberikan sayap bagi keanehan. yang memiliki bahu halus seperti cakar gagak yang memiliki rahang seperti raksasa kehilangan ketaatan.

lihatlah ke bawah untuk terakhir kali. keanehan yang membawa caravan ke portugal. bidang penuh gandum di spanyol andalusia. lihatlah lagi dan lagi. lalu cintailah aku dua kali. satu untuk besok satu untuk hari ini. yang tertelan di laut suka cita hari ini. hari yang aneh saling mendoakan. hari yang aneh saling meratap. hari yang aneh mengingat dosa. dengarlah aku bicara dosa. yang berlama-lama bingung di kepala. menghancurkan kenangan disalahgunakan. lihatlah semua yang aneh dari batu. sungguh menyakitkan membebaskanmu.

tentang; Rumah Orange

tentang; Lelaki kayu

Ada yang menghilang dipertengahan Januari. Ngerumpi dot com atau  Rumah Orange. beberapa potong kenangan berserakan. saya sempat mengabadikan beberapa tulisan saya yang pernah menjadi headline (entah apa nama yg pas). Rumah orange adalah tempat yang hangat dengan wargawarga yang ramah. … Continue reading

tentang ; Buku

bukuPic from here

memulai duaributigabelas dari februari. dan kepala saya dipenuhi dengan pertanyaan ini,
‘ada nggak sih, nikah terus mas kawinya buku sebanyak ini?’ *inikode😀

                                                                                                                                                    

tentang; Seharusnya perempuan


Ibu, saya sudah bisa menjahit. sebuah sapu tangan. seperti katamu, nantinya akan ada lelaki yang menyimpan tangis di dalamnya

Ibu, saya selesai menggambar. sebuah pagar. saya ingat pesanmu, “ menjadi perempuan harus sadar aturan, norma. jangan mengganggu atau merebut milik orang lain. sebab sesuatu yang kau mulai dengan cara tak baik, akan berakibat tak baik pula .”

Ibu, telah saya buat setoples kembang gula manis dari resep warisanmu. bimbing saya agar sepertimu, perempuan yang paham mencipta bahagia, tak pernah gampang menangis. sebab katamu, bahagia itu letaknya bersebelahan dengan syukur.

#everything-inspiring

tentang; Embun

                           manik embun pagi ~ Adel ilyas

” jika ketabahan adalah pagi maka engkau adalah embun”

*seorang penyair menulis ini untuk saya, sungguh membuat gemetar membacanya …*lebay

tentang; Di Jarimu

Suara : Rahne               Puisi : Bernard Batubara

: Lakshmi

di permukaan mataku kau menuliskan luka, lalu memaksa bibirku yang sedang kau lumat dengan ucapan perpisahan membacanya kata demi kata. kita begitu fasih menghancurkan pilihan dan tak pernah tahu bagaimana cara mengembalikan.

sementara airmata sibuk mencari jalan pulang, takdir melingkar tenang di jarimu serupa kegagalan yang memaksa untuk diingat. aku tak mampu menulis di tanganmu sebab sebuah genggam tak cukup menahan puluhan rencana kepergian. kita begitu hapal cara saling menemukan tapi tak pernah paham bagaimana cara bertahan.

di dadamu ada tulisan yang tak pernah selesai. tentang rindu yang lumpuh di tengah jalan dan cinta yang mekar di tempat lain. jauh dari yang tak akan kembali. jauh dari yang tak pernah terjadi.

tentang; Tiap perayaan

sketsa – Vyan RH

segala amsal yang susut menjadi keganjilan
mungkin wujud kusut terbacanya keputusan
9 bulir pilihan yang tak sanggup kita likatkan
makna hikmah bagian berikutnya dari tujuan

apa yang paling kalah dari tak mampu selesai
persinggahan kerap menjadi sela terbengkalai
di tengahnya kau dan aku semisal angin sapai
berpindah ke samping dingin tak saling melerai

begitu ingin menimbang hal lembut dari tiang
gantungan mengambang sebelum ruh hilang
ke stepa tiap perayaan menggema pada liang

menunggu telah pasti membanat di bibir kering
sampai bagian tubuh lain menyebutmu nyaring
terampuni kekasih di beranda yang lebih bening

( Tiap perayaan – Hyde Asmarasastra)

tentang ; Tiga Catatan Terakhir (Bag. 2)

*Puisi:  M. Aan Mansyur                 *Suara: Aditya 

tiba-tiba mampu aku pahami
seluruh yang pernah datang
bertandang ke dua mataku
bahkan yang aku duga mimpi.

tiba-tiba aku jatuh cinta
melebihi seluruh jatuh cinta
yang pernah menyakiti dadaku. namun

ketika ingin aku katakan pada telingamu
aku tak lagi memiliki suara,
ketika ingin aku katakan pada matamu
aku tak lagi memiliki cahaya.