
‘….aku pencinta hujan , kmu tau itu kan Nay . Lebih dari bintang, lebih dari bulan.
Yayaya…aq tau itu…
Pernah nggak kamu memperhatikan bunga hujan?, dia bahkan lebih cantik dari bintang paling terang.
Aq mulai menarik zipper jaketku.
‘..kala hujan datang aku menanti setiap rintik menjadi deras, dimana aku tak mengundang atau meminta. aku menanti setiap tetesnya menderas dimana tangan ringan tengadah terbuka…’
Ya, seperti yang kulihat sekarang, tanganmu mulai tengadah, kau dapat sengenggam, lalu kau cium. Aneh!, ada baunya emang?…’, runtukku dalam hati.
Kutarik capuchon, terasa lebih hangat.
‘….nay, tidakkah kau mencium bau harum ini?..’, katamu sambil menaruh tanganmu tepat dibawah hidungku.
Aku tetap membisu, setetes air jatuh mengenai jaket. Kau menarik tanganmu pelan.
‘..kala mendung datang, aku mulai menunggu tetes demi tetes berjatuhan, tak perlu tuan dan tak perlu majikan. Datang dengan sempurna, takaran setiap bulirnya membawa kehidupan…’
Teorimu itu memang benar. hujan-hujan datang tanpa di undang, sepertinya tak ragu mendatangi. Hujan-hujan sigap pada tempatnya, musnahi rasa pada ragu yang tak bertepi.
Ada rasa gatal mulai menyerang.
‘…..Aku senang kau ada disampingku saat hujan turun…’. Kau raih tanganku.
Sebuah senyum kupaksakan untuk menyenangkanmu.
Akupun sebenarnya senang akan hujan, hanya saja efek dingin yang ditimbulkan, membuatku membencinya. Karnanya penyakit kampunganku mulai kumat. Alergi!!!
Dan kala dingin menyerang, aku tidak bisa jadi diriku sendiri, seperti sekarang. Itu yang tak pernah kau tahu…….
Rinai hujan basahi aku
Temani sepi yang mengendap
Kala aku mengingatmu
Dan semua saat manis itu
Segalanya seperti mimpi
Kujalani hidup sendiri
Andai waktu berganti
Aku tetap tak ‘kan berubah
Aku selalu bahagia
Saat hujan turun
Karna aku dapat mengenangmu
Untukku sendiri
Selalu ada cerita
Tersimpan dihatiku
Tentang kau dan hujan
Tentang cinta kita
Yang mengalir seperti air
Aku bisa tersenyum
Sepanjang hari
Karna hujan pernah menahanmu disini
Untukku (HUJAN – Utopia)